Payakumbuh – Parade Onthel Payakumbuh 2025, yang digelar meriah akhir pekan ini. Event ini sukses menghadirkan nuansa tempo dulu yang memukau ribuan warga dan wisatawan yang memadati jalan-jalan utama kota.
Parade yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Payakumbuh bersama komunitas sepeda tua ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mengangkat potensi wisata budaya dan sejarah. Dengan tema “Mengayuh Nostalgia, Menyapa Alam dan Budaya”, kegiatan ini menampilkan berbagai sepeda ontel antik dari berbagai daerah di Sumatera Barat bahkan dari luar provinsi.
Pesona Retro di Tengah Kota Modern

Baca Juga : Bangga Wako Zulmaeta Apresiasi Dua Pemuda Payakumbuh yang Diakui Dunia Teknologi
Dari pagi hari, kawasan pusat kota Payakumbuh sudah dipenuhi peserta dengan busana jadul. Pria-pria mengenakan seragam pejuang, jas panjang, atau baju lurik lengkap dengan topi khas era 1940-an. Sementara para perempuan tampil anggun dengan kebaya, kain batik, hingga gaya rok mengembang ala zaman kolonial.
Deretan sepeda ontel dengan cat mengilap, lonceng kuno, hingga aksesoris unik seperti lampu minyak dan peluit logam membuat suasana terasa seperti melangkah ke masa lalu. Sepeda-sepeda ini sebagian besar merupakan koleksi pribadi yang dirawat puluhan tahun oleh para penggemarnya.
“Setiap ontel punya cerita sendiri. Ada yang warisan kakek, ada juga yang didapat dari hasil berburu ke berbagai kota. Jadi parade ini bukan hanya soal sepeda, tapi tentang menghargai sejarah,” ujar Andi Pranoto, salah satu peserta asal Bukittinggi.
Antusiasme Warga dan Wisatawan
Sepanjang rute parade yang melewati Lapangan Kubu Gadang, Balai Kota, dan Simpang Benteng, masyarakat terlihat antusias. Anak-anak bersorak menyapa peserta, sementara wisatawan sibuk mengabadikan momen dengan kamera dan ponsel.
Tak hanya parade, acara juga diramaikan dengan festival kuliner tradisional, bursa barang antik, serta pameran foto sejarah Payakumbuh tempo dulu. Pengunjung bisa mencicipi makanan khas seperti lamang tapai, karupuak sanjai, hingga kopi tubruk yang disajikan dalam cangkir enamel khas warung lama.
“Ini sangat menarik dan berbeda dari event wisata biasanya. Kita seperti dibawa kembali ke masa kecil, saat sepeda ontel masih menjadi alat transportasi utama,” kata Reni (45), wisatawan asal Padang.
Dukungan Pemerintah dan Komunitas
Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Zubir menyampaikan apresiasi terhadap seluruh panitia dan peserta yang telah memeriahkan kegiatan ini. Menurutnya, Parade Onthel Payakumbuh bukan sekadar kegiatan hobi, tapi juga memiliki nilai ekonomi dan pariwisata yang besar.
“Melalui kegiatan seperti ini, kita memperkuat identitas budaya dan sejarah lokal, sekaligus menarik minat wisatawan untuk datang ke Payakumbuh. Tahun ini kita targetkan lebih dari 20 ribu pengunjung selama acara berlangsung,” ujar Zulmaeta.
Pemerintah kota juga berencana menjadikan Parade Onthel sebagai agenda tahunan yang terdaftar dalam kalender wisata Sumatera Barat. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan menjadi magnet baru bagi sektor pariwisata daerah, terutama wisata minat khusus yang sedang berkembang pesat.
Sementara itu, Ketua Komunitas Sepeda Onthel Payakumbuh, Hendri Yanto, menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk kecintaan pada sejarah dan gaya hidup sederhana. “Ontel mengajarkan kita makna perjuangan, ketekunan, dan kebersamaan. Kami senang karena generasi muda juga mulai tertarik mengenal sepeda klasik,” ujarnya.






