payakumbuh – Disdikbud Gelar Festival Dalam upaya melestarikan kekayaan bahasa dan budaya daerah yang kian tergerus oleh arus globalisasi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Acara ini menjadi wadah ekspresi sekaligus ajang pembinaan bagi generasi muda agar tetap mencintai dan menjaga warisan bahasa ibu di tengah dominasi bahasa asing yang semakin kuat.
Mereka menampilkan beragam karya dan pertunjukan berbasis bahasa daerah, mulai dari pidato, puisi, mendongeng, hingga drama tradisional. Setiap penampilan tidak hanya menunjukkan kemampuan berbahasa, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga : Pemko Payakumbuh Perkuat Perlindungan Jaminan Sosial
“Bahasa ibu adalah cerminan akar budaya kita. Jika bahasa ini hilang, maka hilang pula sebagian dari identitas kita sebagai bangsa yang majemuk,” ujarnya penuh semangat.
Selain menjadi ajang kompetisi, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif seperti lokakarya penulisan aksara daerah, lomba pantun tradisional, hingga diskusi budaya lintas generasi.
Salah satu peserta dari tingkat SMP mengaku bangga bisa ikut berpartisipasi. “Saya jadi tahu ternyata banyak ungkapan dalam bahasa daerah yang maknanya sangat dalam dan indah. Sayang sekali kalau sampai punah,” tuturnya.
Festival Tunas Bahasa Ibu juga menjadi ruang interaksi antara pelajar, guru, budayawan, dan masyarakat. Mereka saling berbagi pengalaman tentang bagaimana menjaga agar bahasa lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman. Tidak sedikit pula guru yang menjadikan momen ini sebagai inspirasi untuk memperkaya metode pembelajaran bahasa daerah di sekolah.
Menariknya, sejumlah stand pameran budaya turut meramaikan acara, menampilkan karya sastra daerah, alat musik tradisional, hingga kuliner khas. Hal ini menambah semarak suasana sekaligus memperkuat pesan bahwa bahasa dan budaya adalah dua hal yang tak terpisahkan.
Pada akhirnya, Festival Tunas Bahasa Ibu bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan hati untuk menjaga warisan leluhur. Di tengah gempuran digitalisasi dan globalisasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya. Justru, dari bahasa ibu lahir karakter, kebijaksanaan, dan keindahan yang membentuk jati diri bangsa Indonesia.






